Apa itu Self Publishing?

self publishing
self publishing

source: freepik.com

pustakapedia.com – Akhir-akhir ini dunia penerbitan Indonesia menunjukkan geliat baru yang semakin eksis. Geliat ini tidak dapat kita lihat pada penerbit-penerbit buku mainstream. Meskipun, penerbit-penerbit besar itu juga terus berkembang. Tetapi, pada individu-individu yang telah memilih jalan untuk menerbitkan sendiri karya-karyanya. Inilah sebenarnya akar dari istilah y

ang makin sering kita dengar dengan sebutan self publishing.

Lalu, apakah sebenarnya pengertian self publishing itu?

Pengertian Self Publishing

Ada banyak pengertian yang bertebaran di dunia maya tentang ini. Namun, tidak ada salahnya Kami turut memberikan pengertian tentang apa itu self publishing berdasarkan yang Kami pahami.

Baca Juga  Liputan Kompas dan KompasMuda.com

Jika dilihat dari akar katanya, self publishing  secara bahasa dapat dipahami dengan “penerbitan mandiri” alias menerbitkan buku sendiri. Artinya, si penulis melakukan semua proses penulisan, editing, desain cover, tata letak buku, permohonan ISBN dan barcode di Perpustakaan Nasional RI oleh dirinya sendiri. Tidak lupa, si penulis juga menerbitkan bukunya dengan penerbit yang dibuatnya sendiri. Termasuk melakukan pemasaran sendiri. Benar-benar penulis yang mandiri bukan?

Dari penjelasan di atas saja Kami rasa pembaca sudah dapat menangkap pengertiannya dengan baik. Secara istilah self publishing berarti proses penerbitan -umumnya buku- yang dilakukan oleh penulis hingga buku karyanya tersebut dipasarkan.

Dari pengertian di atas, tampaknya kita melihat dua sisi dari self publishing ini yaitu sisi kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan dan Kelemahan Self Publishing

Self publishing memiliki kelebihan dibanding dengan saat Kita mengajukan naskah ke penerbit-penerbit pada umumnya. Kelebihan pada self publishing yang terutama adalah tidak adanya penolakan naskah. “Ya iyalah, buku dia sendiri mana mungkin ditolak. Wong bukunya karya dia sendiri, penerbitnya punya dia sendiri. Pasti terbitlah,” ujar seorang kawan suatu saat.

Selain itu, self publishing dapat dengan suka-suka menentukan judul, lay out, desain cover, dan pemasaran sendiri. Penulis benar-benar berkuasa penuh atas karyanya.

Tapi, perlu Kami ingatkan bahwa kelebihan yang ada pada self publishing juga merupakan kelemahan-kelemahannya. Kenapa? Sebab, pertama sekali tidak adanya seleksi naskah. Artinya kualitas naskah yang diterbitkan ‘dipertanyakan’. Bagi seorang penulis berpengalaman kelemahan ini bisa tertutupi. Hal ini juga termasuk pada editing.

Kemudian, hasil lay out dan desain cover. Tidak semua penulis memiliki kemampuan desain cover dan tata letak dengan menggunakan software desain grafis. Karenanya, buku hasil self publishing cenderung buruk dalam tampilan dan tata letak.

Masalah ini, mudah saja diatasi. Penulis bisa menggunakan jasa seorang desainer grafis untuk melakukan kedua hal tersebut. Namun, biayanya tidaklah murah. Belum lagi, biaya lain yang perlu dipertimbangkan seperti cetak dan pemasaran.

Dari sini kita bisa lihat bahwa seorang yang mau terjun ke dunia self publishing harus memiliki berbagai keterampilan dan pengetahuan.

Solusi

Geliat penerbitan yang telah Kami kemukakan di atas sebenarnya tidak melulu soal self publishing dalam pengertian yang terbatas, yakni perihal ‘serba sendiri’. Yang makin marak dengan menjamurnya self publishing ini adalah penerbit buku yang melayani jasa self publishing.

Penerbit buku ini, seperti juga pustakapedia, membantu segala proses yang rumit tetapi dengan hasil yang memadai, yang tidak tertangani si penulis. Penulis juga dapat menggunakan nama penerbit yang membuka jasa tersebut atau dengan nama penerbit si penulis sendiri.