Desain Cover dan Lay out; Elemen Penting Sebuah Buku

Di mata seorang desainer grafis, adagium “don’t judge a book by it’s cover” telah menganggap remeh pekerjaannya. Apalagi ia terus disuarakan seperti sengaja dikampanyekan. “Jangan remehkan cover,” balas seorang tukang desain cover di sebuah penerbitan buku. Ia melawan!

Ia marah, merasa upayanya memadukan warna, mempertimbangkan nirmana, tipografi, elemen lain seperti garis dan ukurannya seperti tak terkait dengan isi. Para desainer cover buku sepertinya dianggap bodoh. Tak memahami isi, hanya membuat tampilan muka. Si desainer tambah murka: “Saya baca isinya dulu, memahaminya, lalu merancang sekaligus membuat desain covernya.” Ia seperti hendak menunjukkan bahwa cover berkaitkelindan dengan isi. Ia tak mungkin membuat desain mirip cover DVD dangdut koplo untuk buku bergenre filsafat bahasa yang serius.

Meski hanya analogi tapi pemilihan diksi “book” dan “cover” inilah yang seakan buku (isi) dan cover (tampilan muka) berdiri sendiri-sendiri. Tak saling kenal. Asing satu sama lain. Di sinilah, seorang desainer grafis (seharusnya) tersinggung.

Pada industri percetakan (buku), seorang desainer grafis bersama-sama dengan layouter mempertimbangkan banyak aspek demi kesesuaian antara isi dan aspek grafisnya.

Baca Juga  Self Publishing di Indonesia

Pertimbangan itu karena cover dan layout merupakan elemen penting dari sebuah buku. So, judge a book by it’s cover! adalah baiat bersama para desainer grafis ketika menghadapi teks. Baginya, warna, garis, titik, ukuran adalah -juga- teks dan di hadapan isi buku, cover memiliki hubungan intertekstualitas.

Baca Juga  PoD dan Self Publishing; Revolusi Bisnis Penerbitan Buku

Satu lagi, desain grafis -juga pekerjaan desain cover- adalah pekerjaan seni dengan media yang berbeda; berkanvaskan layar komputer dan mouse sebagai kuasnya.

Categories: Blog

Leave a Reply