Ini Cara Status Media Sosial Menjadi Buku

Menulis apapun medianya pada dasarnya sama. Menuangkan gagasan, perasaan, pendapat, imajinasi dengan tulisan. Media untuk menulis -sekarang ini- semakin beragam, semakin banyak. Dulu, media untuk menulis sangat terbatas, pada awalnya media untuk menulis adalah benda-benda yang terdapat di alam seperti batu, kulit hewan, dinding goa, kulit pohon dan semacamnya.

Karena itu, ada yang percaya bahwa menulis adalah kerja kebudayaan.

Kertas, lalu, dianggap sebagai penemuan besar. Dengan segala kelebihannya, penggunaan kertas hingga saat ini masih tinggi.

Tibalah kita di zaman sekarang ini. Digital. Dimana kita bisa menulis tanpa media-media yang telah disebutkan di atas dan mendistribusikannya secara luas dalam waktu yang relatif singkat.

Zaman digital ini kemudian melahirkan media sosial. Kabarnya, Indonesia merupakan salah satu negara paling produktif menggunakan media sosial. Entah keberapa. Produktivitas itu dilihat melalui status yang muncul. Status itu paling banyak adalah sebuah tulisan. Sebagian kecil lain foto/ gambar dan video.

Dengan logika linier, kita bisa berkata bahwa produktivitas menulis orang Indonesia semakin tinggi, sejalan dengan tingginya penggunaan media sosial.

Kita bisa bayangkan, tanpa ada ajakan untuk menulis di media sosial, tanpa ada training/ pelatihan/ workshop penulisan media sosial, orang Indonesia bisa menulis. Secara akumulatif, mungkin bisa sampai ribuan status diproduksi hanya dalam satu minggu.

Baca Juga  2 (Dua) Kunci Pokok dalam Penulisan

Sayang, di sisi lain. Gerakan menulis yang lain, terutama menulis buku, sepi. Meskipun banyak diadakan kursus dan pelatihan menulis buku. (Suatu saat mungkin akan kita posting alasan menulis buku yang sepi peminat).

Padahal, percaya atau tidak, status kita di media sosial bisa dijadikan buku dengan beberapa syarat:

  1. Buatlah status dengan minimal panjang 450 karakter.
  2. Jika kita terbiasa dengan status pendek maka kumpulkan status tersebut dalam satu halaman, pilih yang memiliki kaitan, buat seakan-akan status pendek itu berupa outline, susun dengan sistematika 3 babak, misalnya, (pembukaan, isi, penutup) lalu kembangkan status itu dengan memberikan penjelasan, contoh, perbandingan, pengertian dan cerita atau kisah yang relevan.
  3. Konsisten dengan satu tema. Misal, selama 3 bulan tulislan status tentang parenting.
  4. Cari dan pelajari referensi yang sesuai dengan status-status itu. Ini akan memudahkan kita saat pikiran kita macet dalam mengembangkan status tersebut menjadi lebih panjang. Lakukan hal ini se-paragraf demi se-paragraf.
  5. Jika dirasa cukup menjadi sebuah buku, lalu baca ulang apakah ada miss antar paragraf atau antar sub-bab tulisan.

Sekian tips hari ini. Semoga dapat menjadi inspirasi

2 Comments

Leave a Reply