Memahami Definisi Buku Indie

pustakapedia.com – Entah sejak kapan dikotomi antara indie dan mayor atau arus utama mulai digulirkan. Kita mungkin sering mendengar band berlabel indie, majalah indie, film indie dan sesuatu lainnya yang menamakan dirinya sebagai indie.

Hal ini juga rupanya terjadi di dunia perbukuan; di Indonesia atau di luar negeri. Di negeri ini bahkan telah dimulai sebuah event buku berupa pameran buku indie (indie book fair). Sebelum lebih jauh ada baiknya Kita bedah sedikit tentang frasa ini agar dapat pemahaman yang baik.

Kata indie, menurut beberapa sumber, berasal dari Bahasa Inggris dari asal kata independent. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kata independent berarti merdeka, sendiri, yang berdiri sendiri, dan bebas. Karena alasan yang tidak diketahui jelas kata ini melahirkan bentuk slangnya yakni indie. Beberapa orang mengemukakan alasannya bahwa kata indie lebih easy listening, lebih gaya, lebih keren (cool) – sebagaimana beberapa kata slang lain yang sering kita jumpai.

Baca Juga  Desain Cover dan Lay out; Elemen Penting Sebuah Buku

Kemudian, kata indie pada frasa buku indie ini bisa kita pahami dengan pendekatan makna kata bahasa di atas. Namun, dengan tetap memperhatikan aspek lain yang melingkupinya. Walaupun sebenarnya frasa tersebut dirasa bermasalah mengingat kata indie merupakan bentuk slang yang dari Inggris. Mungkin karena tidak ditemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia maka kata tersebut dibiarkan begitu saja.

Buku indie, menurut sebagian sumber, adalah buku yang diterbitkan secara mandiri baik oleh seseorang maupun kelompok dalam bentuk komunitas ataupun organisasi. Penerbitan mandiri tersebut didasarkan oleh beberapa alasan. Pertama, buku indie berisi naskah yang dirasa hanya perlu atau penting dibaca oleh sedikit orang karena alasan kesamaan hobi, minat, ideologi, bahkan bahasa. Sebab, ditujukan untuk dan dari kalangan terbatas.

Kedua, buku indie tidak dapat ditampung oleh penerbit mayor karena jika diterbitkan dianggap akan merugikan karena tidak diminati pasar. Biasanya, dalam pengertian ini, buku indie berisi naskah dengan idealisme tingkat “ngerih”. Bisa juga karena berisi kajian yang teramat lokal. Bisa juga sebab alasan lain.

Ketiga, buku indie memang dikehendaki oleh si penulisnya. Penulis memang tidak mau bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor. Biasanya, si penulis merasa bahwa pihak penerbitan akan mengekang tidak memberi kebebasan dalam menentukan judul, desain cover atau alasan lainnya. Atau -mungkin- suaranya yang lantang akan sedikit diredam oleh pihak penerbitan. Si penulis hanya memerlukan kemerdekaan atau kebebasan ekspresinya.

Keempat, bisa jadi bukan karena alasan-alasan di atas. Misalnya alasan ekonomi, akses yang terbatas calon penulis ke penerbit buku non-indie karena kurangnya informasi, bisnis, atau undang-undang pelarangan penyebaran ideologi atau paham tertentu. Yang disebutkan terakhir pernah terjadi di era sebelumnya di Indonesia, Kita mungkin pernah mendengar “pelarangan buku” mulai dari menuliskannya, menerbitkan, memasarkan hingga membaca dan mendiskusikannya.

6 Comments

  • nitz says:

    Makasih atas infonya,, artikelnya benar-benar bermanfaat..

  • penerbit indie bisa menjadi solusi bagi penulis yang memiliki naskah bagus yang layak dikonsumsi masyarakat tetapi kesulitan untuk diterbitkan, apalagi jika ingin diterbitkan oleh penerbit terkenal yang memiliki kualifikasi yang tinggi terhadap naskah yang akan diterbitkan.

    Jadi penerbit indie bisa menjadi alternatif bagus untuk menerbitkan buku dan tentunya menjadi wadah bagi para penulis berbakat Indonesia untuk menerbitkat naskahnya.

    Semangat untuk penerbit Indie

  • Terimakasih atas informasinya yang sangat berguna dan dapat menambah wawasan.

Leave a Reply