Tentang Anna

Tentang Anna Zahid PaningromeData Buku

Judul: Tentang Anna
Penulis: Zahid Paningrome
Penerbit: Pustakapedia Indonesia
Jumlah Halaman: 215
ISBN: 978-602-6719-13-3
Kategori: Novel

Deskripsi
Separah apa kamu bisa mencintai seseorang? Apakah di dalam dirimu sudah sepenuhnya dikuasai oleh bayang- bayangnya? Kisah ini tentang Anna yang pergi tak berjejak hingga aku menunggu cukup lama untuk bisa melihatnya kembali dalam satu meja yang sama. Aku mencintai Anna, tapi bukan itu intinya. Sialnya, Aku masih menyimpan namanya di relung hatiku paling dalam. Sudah hampir tiga tahun wanita itu pergi tanpa pesan, dan aku tak pernah bisa berkomunikasi dengan dirinya. Semua jalur yang bisa aku pakai ditutup dengan serampangan olehnya. Berkat aku, dia menjadi manusia anti sosial. Aku sudah tak bisa lagi melihatya di dunia maya, tak bisa lagi membaca setiap tulisan di blognya. Aku benar-benar sudah menghancurkan semuanya, meruntuhkan tiang-tiang dan membuat sekat yang begitu tinggi hingga tak terlampaui olehku.
Cinta sebenarnya. Aku hanya menemukan hal-hal abstrak darinya. Saat aku benar-benar membutuhkan cinta, dia justru menjauh—tak menyentuhku. Bahkan saat aku tak membutuhkannya sama sekali, cinta datang dengan liarnya, seperti bait-bait dalam puisi Pablo Neruda. Aku termakan oleh opini-opini orang mengenai cinta yang sempurna dan abadi. Aku merasa hilang diri, hancur tak berbentuk. Meski aku berusaha menggabungkan kepingan-kepingannya. Tetap saja, Anna tak lagi pernah kembali, hidup dalam pikirannya sendiri. Lupa bahwa ada seseorang yang menantinya disini.
Aku bahkan masih ingat tanggal pertama kali kita bertemu. Saat dia mengajakku minum kopi dan menikmati sore di
salah satu kedai di kota ini. Wajahnya masih kuingat, caranya membenarkan letak duduk, caranya merapikan rambut, dan caranya menatapku. Aku terpesona pada apa yang dia lakukan, meski hanya mengelus lehernya dengan lembut. Aku ingat berapa lama kita menghabiskan waktu hari itu. Saat matahari sedang sangat teriknya hingga terbenam di ufuk barat. Aku bahkan tak pernah lupa setiap kata yang keluar dari bibirnya. Semua terasa neurotik bagiku. Tak ada yang bisa menggantikan itu.

Baca Juga  Self Publishing di Indonesia

Leave a Reply