Zahid Paningrome: Dhanurveda II

Cover Buku Pustakapedia Dhanuveda II Zahid Paningrome“Novel ini adalah sekuel dari Dhanurveda, masih melanjutkan kisah dari tokoh-tokoh utamanya dengan genre futurisme, sebuah genre baru yang hendak saya hadirkan dan jadi pewarna di dunia Sastra Indonesia” – Zahid Paningrome.

Bagi pembaca Dhanurveda edisi pertama tentu sudah tahu betul genre yang ditawarkan penulis ketika Dhanurveda II dirilis. Tapi, Zahid tetap memberi pengantar sambil mengingatkan kepada khalayak pembaca soal genre karyanya ini. Seakan ingin merawat ingatan para pembacanya tentang Dhanurveda. Tentang fiksi futuristik. Perihal masa depan.

Tentu saja pengakuan Zahid tentang posisi genre karyanya ini perlu diuji. Agar tidak menjadi klaim sepihak. Dan bukankah jika seorang penulis telah mempublikasikan karya tulisnya, lalu ia/penulis (menjadi) telah mati? Penulis tidak menjadi penafsir kebenaran tunggal; bahkan atas karyanya sendiri? Karya tulis -sebut saja teks- yang Zahid tuliskan mengarungi perjalanannya sendiri. Ia tak haram ditafsir oleh sekian banyak pembacanya.

Tentu saja Zahid paham atas diskursus teks ini. Ia, selain sebagai penulis, juga seorang pengamat yang baik. Genre futurisme, menurut Zahid, adalah bentuk genre yang paling tepat bagi Dhanurveda II ini. Zahid tidak sedang mengaku-ngaku tanpa dasar.  Ia tidak sedang meracau; karyanya ini memang memberi warna bagi dunia sastra kita. Silakan baca sebagian isi buku ini agar paham apa maksud Zahid:

“Waktu itu, aku melihat seorang wanita di pintu gerbang camp Hilya,” Anggara melihat Hilya yang fokus mendengar. “Aku nggak fokus kalo Hilya membuka portal. Wanita itu seperti memanggilku, ada daya yang kuat yang terpancar dari dirinya. Saat visi Popy masuk ke tubuhku, semacam ada penolakan dari dalam… Aku sempat melihat cahaya hitam, melihat kalian pergi secepat cahaya. Ternyata aku sampai di tempat yang sama, di camp Hilya… Aku tertinggal, jatuh membentur tanah.”

Mara dan Hilya saling tatap, Popy masih fokus mendengarkan. “Terus gimana?” tanya Mara, ia menelan ludah—sedikit kaget mendengar cerita itu. Hilya penasaran, ia tidak lagi bersandar pada tembok.

“Aku melihat Skyline…” Anggara tertahan, kalimatnya menggantung—ada semacam arus bicara yang dibiarkan mengambang. Hilya dan Popy saling tatap. Mara mendekat, Hilya semakin kuat melipat kedua tangannya.

“Wanita itu?” Popy memastikan.

“Bukan… Waktu aku lihat lagi, wanita itu hilang.”

“Terus?” Mara makin penasaran.

“Skyline turun dari langit, mereka naik kapal yang sempat kita temukan di hutan. Suaranya keras, gemuruh… Bukan dari suara mesin, tapi dari langkah kaki para prajurit. Di kening mereka ada gambar tapak kaki bayi… Persis yang kamu temukan waktu itu, Mar. Ada yang kuning, ada yang biru.

“Apanya?” tanya Popy.

“Warna gambar.”

“Hmm…” Mara mengelus dagunya, ia menatap Hilya. Ada pertanyaan besar muncul dalam dirinya. Hilya mengangguk—mengetahui apa maksud Mara.

“Perbedaan jenis kelamin…” desis Hilya.

“Maksudnya?” tanya Anggara.

“Mungkin warna yang beda menunjukkan jenis kelamin mereka.”

“Tapi, bukannya Skyline itu robot? Saka yang lihat sendiri… Anggara juga, kan?” Popy melihat Hilya dan Mara.

“Skyline memang robot, yang Saka temukan ciptaan yang belum sempurna… Ingat waktu kamu menodongkan pistol di gedung itu? Ternyata salah satunya robot, persis manusia. Cuma memang nggak ada gambar rapak kaki.”

“Terus gimana, Ngga?” Mata Hilya tertuju pada Anggara.

Baca Juga  Dhanurveda: Zahid Paningrome