Dhanurveda: Zahid Paningrome

cover buku DhanurvedaData Buku

Judul: Dhanurveda

Penulis: Zahid Paningrome

Penerbit: Pustakapedia Indonesia

Jumlah Halaman: 235

ISBN: 978-602-60316-7-9

Kategori: Fiksi

 

Review Buku

Antara Futuristik dan Dystopia dalam Novel “Dhanurveda” Zahid Paningrome
Oleh Purwono Nugroho Adhi

Sumber: jenterasemesta.or.id

SAYA belum membaca novel ini, namun dari secarik ringkasan “Pasca perang dunia ketiga, bumi mengalami kerusakan hebat. Benua-benua terpisah tak berbentuk. Serangan nuklir dari lima negara membabi buta seluruh penjuru bumi, pulau-pulau terpisah tak berbentuk. Lautan naik drastis.” Sepertinya, Paningrome ingin membingkai dystopian novel, hal itu terlihat sekilas dari nuansanya yang futuristik, membayangkan kehancuran dan kerusakan alam atas penindasan dan kontrol sosial (oppressive societal control). Kontrol dan upaya penindasan itu tentu entah dari sebuah perusahaan raksasa, birokrasi, kekuatan teknologi, dan berbagai lainnya yang bersifat totaliter.

Sepertinya juga, Paningrome membingkai Dhanurveda sebagai protagonis untuk menunjukkan segi dystopia dengan cirinya yang terjebak dan sedang berjuang untuk melawan, mempertanyakan sistem sosial dan politik yang ada, merasa bahwa ada yang salah dengan masyarakat di mana ia tinggal dan akhirnya mengajak pembaca mengakui aspek-aspek negatif dari dunia dystopian melalui perspektif nya.

Dan, ciri selanjutnya sepertinya Paningrome membingkai pemimpin kelompok Dhanurveda dengan sosok perempuan,

Mengapa protagonis didominasi perempuan dalam banyak buku dystopian ini? Mungkin banyak kalangan menilai karena kemenarikan karakter perempuan yang cenderung mampu membuat ambiguitas emosi (antara tangis dan perjuangan), stereotypes untuk mewakili pemberontakan terhadap otoritas (orang tua, pemerintah, masyarakat, dll), menjadi survivalist yang menarik perhatian cerita karena biasanya terjebak dalam cinta segitiga. Namun, kadang pahlawan perempuan jauh lebih dari preferensi gender dalam fiksi. Mungkin ini pergeseran dalam berpikir remaja, untuk mengalami dunia, bebas stereotip, dan menuju harapan.

Baca Juga  Dakwah Kreatip Ala LDK

Tentu juga, Paningrome tidak lepas dari bacaan pop dan film dystopia yang baru nge-trend, salam untuk Paningrome yang memberikan nuansa baru tulis menulis yang tak hanya cinta-cintaan, namun berani merintis dystopian novel

Leave a Reply