Kitab Ashlu al-Qadar fi Khasa’isi Fadhaili Ahli Badar  menjadi fokus utama yang dibicarakan dalam buku ini, karena hal ini dilatarbelakangi dengan adanya kebiasaan masyarakat santri Cidahu-Banten yang menjadikan kitab Ashlu al-Qadar sebagai bacaan wajib mingguan dan tahunan sebagaimana layaknya kitab-kitab yang biasa dibaca pada perayaan maulid Nabi SAW, seperti Barjanzi, Diba’, dan lainnya, sehingga kitab tersebut cukup populer dan sangat digandrungi disana.

Bagi kebanyakan santri di Banten, khususnya di Pandeglang, kitab Ashlu al-Qadar ini lebih dikenal dengan nama kitab Asma Badar. Kitab ini dipopulerkan oleh Almarhum Abuya Dimyathi (Mbah Dim Banten), seorang ulama terkenal asal Banten yang dianggap juga sebagai panutan para kyai di sana.  Umumnya masyarakat santri Cidahu menganggap bahwasanya kitab tersebut merupakan kitab nazhaman yang penuh dengan keberkahan dan kekeramatan bila dibaca, sehingga tak jarang para santri di sana membaca kitab tersebut baik secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah jika mereka merasa sedang membutuhkan permohonan hajat kepada Allah agar cepat dikabulkan ataupun berdoa agar dijauhkan dari bala bencana.

Tradisi ngalap barokah para santri Cidahu terhadap bacaan nazhaman keutamaan Sahabat Ahli Badar yang terdapat di dalam kitab Ashlu al-Qadar, dibuktikan dengan senantiasa membaca kitab tersebut rutin di setiap malam Jumat setelah selesai marhabanan yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Pesantren, selain itu, terkadang diwaktu senggangpun para santri berkumpul sendiri untuk membaca kitab Ashlu al-Qadar meski tanpa arahan dari Pimpinan Pesantren. Hal ini seolah memberikan gambaran tentang keyakinan para santri Cidahu akan adanya suatu kelebihan (baca: keberkahan/kekeramatan) yang tersimpan di dalam bacaan dan makna dari kitab Ashlu al-Qadar.

            Melihat realitas di atas, nampaknya ada kaitannya antara kondisi kepercayaan santri Cidahu terhadap suatu sastra yang dinilai memiliki kekeramatan di dalamnya sehingga mereka dengan senang hati membaca nazhaman kitab Ashlu al-Qadar dengan niatan untuk mendapat keberkahan.

Secara sederhana, sastra dapat dikaitkan dengan kondisi masyarakatnya, karena sastra memiliki sifat tiruan masyarakat (mimesis) dari zamannya.[1] Sastra dapat dikaitkan dengan ilmu sosiologi jika kita ingin melihat bagaimana sastra itu dapat tercipta. Sosiologi sastra merupakan kajian sastra yang membahas kaitan sastra dengan masyarakat. Dalam sosiologi sastra, sebuah karya sastra baik isi maupun bentuknya selalu tidak pernah terlepas dari kondisi lingkungan dan kekuatan sosial tertentu pada periodenya.[2]

Sejak lama, Banten kaya akan sastra yang sifatnya dipercaya memiliki unsur mistis atau kekeramatan di dalamnya.[3] Sebut saja seperti mantra misalnya. Mantra dalam sudut pandang tradisi lisan yang berlaku di agama Hindu-Budha atau dalam agama kepercayaan lainnya, dikatakan oleh Yale dinilai memiliki persamaan dengan bacaan zikir dan wirid yang biasa dilafalkan kaum muslim, persamaannya menurut Yale terdapat dalam tujuan melafalkannya, yakni sama-sama sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa ataupun sebagai sarana untuk memanjatkan sebuah permohonan.[4]

Citra Banten sebagai wilayah religius yang kaya akan mantra dan praktik-praktik ilmu magic di dalamnya sudah dikenal luas di masyarakat Indonesia, bahkan Martin Van Bruinessen sendiri mengatakan bahwa Banten sebagai the central spot of magical practice.[5] Perkataan Bruinessen nampaknya memang tidak mengada, hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya mantra-mantra ataupun doa-doa yang beredar di masyarakat Banten yang dianggap memiliki kekuatan tersendiri ketika seseorang melafalkannya, sebut saja sebagai contoh adalah doa yang biasa dipanjatkan oleh orang yang hendak melakukan atraksi permainan debus sebelum memulai atraksinya. Para pelaku pemain atraksi debus biasanya akan memanjatkan doa dan mantra-mantra khusus sebelum pada akhirnya badannya harus dipukul oleh benda tajam.

Cidahu masuk dalam Kawasan provinsi Banten, tepatnya masuk kedalam wilayah Kabupaten Pandeglang. Secara tidak langsung hal ini membuat sebuah pertanyaan besar terkait bagaimana hubungan sastra yang terdapat di dalam kitab Ashlu al-Qadar terhadap kondisi lingkungan sosial keagamaan disana yang dinilai kental dengan budaya magis, sebab kitab Ashlu al-Qadar ini adalah suatu kitab yang berisi nazhaman kekhususan Sahabat Ahli Badar yang di dalam mukaddimahnya diterangkan secara lugas dan tegas oleh Abuya Dim terkait keutamaan yang akan didapat oleh orang yang membacanya sebagaimana penulis telah cantumkan keutamaannya di halaman atas.

[1] Siswanto dan Wahyudi, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 188.

[2]Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, (Jakarta: Rajawali Press, 1999), h. 113.

[3] Sulaiman Djaya, “Kosmologi Banten dalam Sastra Mutakhir,” Radar Banten, 11 November 2015, h. 7.

[4] Robert A. Yale, Explaining Mantras, (New York & London: Routledge, 1995), h. 4.

[5] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), h. 187-188.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *