Category Archives: Blog

.

Self Publishing di Indonesia

self publishing Indonesia

Belakangan self publishing di Indonesia kian ramai. Ramainya penerbitan mandiri ini tidak lain karena semakin banyak pula yang sadar bahwa self publishing sebagai peluang yang demikian terbuka.

Karenanya, bagi Anda yang hendak memulai mendirikan self publisher perlu bersiap menghadapi persaingan di pasar penerbitan buku ini.

.

PoD dan Self Publishing; Revolusi Bisnis Penerbitan Buku

PoD print on demand

pustakapedia.com – Print on Demand (PoD) berarti cetak berdasarkan pesanan. Sistem ini memungkinkan untuk mencetak buku tanpa minimum order. Bahkan ada jasa percetakan yang ‘berani’ menerima order cetak buku meskipun hanya satu buku saja.

Sebelum PoD, pencetakan buku dicetak dengan jumlah banyak. Rata-rata cetak per-satu judul buku sebanyak 2500 atau 3000 buku; biasanya dilakukan penerbit dengan dana yang kuat. Bagi penerbit kelas menengah satu judul buku biasanya dicetak sebanyak 500 buku saja. Biaya cetak inilah yang menjadikan banyak orang ‘mikir-mikir’ untuk membuka usaha penerbitan buku.

Kita dapat membayangkan betapa mahalnya biaya cetak buku jika dalam satu bulan pihak redaksi telah menyetujui puluhan judul buku yang masuk.

Soal kualitas, PoD dengan mesin digital printing atau dengan printer laser untuk isi buku dihadapan cetak massal dengan mesin offset sekarang ini perbedaannya tipis saja. Suatu saat, printer laser akan mengembangkan dan memperbaiki kualitasnya – seperti yang Kita lihat sekarang ini, semakin baik.

Dengan revolusi cetak PoD ini, dunia penerbitan seperti menunjukkan gairah baru. Usaha penerbitan buku tidak lagi menjadi dominasi ‘tuan berdompet tebal’. Revolusi cetak tersebut linier dengan gairah baru penerbitan yang sering Kita dengar; self publishing.

Gairah ini muncul mengingat ‘mas-mas berkantong pas-pasan’ bisa memiliki penerbitan berlabel self publishing. Tentu saja, atas pertolongan terknologi baru bertitel print on demand itu.

Ke depan, asumsi Kami penerbitan jenis inilah yang akan berkembang. Hal tersebut mengingat buku elektronik diprediksi akan menjadi pilihan nomor satu bagi ‘si kutu buku’. Karenanya, cetak buku dengan skala kecil menjadi pilihan.

.

Memahami Definisi Buku Indie

buku indie

pustakapedia.com – Entah sejak kapan dikotomi antara indie dan mayor atau arus utama mulai digulirkan. Kita mungkin sering mendengar band berlabel indie, majalah indie, film indie dan sesuatu lainnya yang menamakan dirinya sebagai indie.

Hal ini juga rupanya terjadi di dunia perbukuan; di Indonesia atau di luar negeri. Di negeri ini bahkan telah dimulai sebuah event buku berupa pameran buku indie (indie book fair). Sebelum lebih jauh ada baiknya Kita bedah sedikit tentang frasa ini agar dapat pemahaman yang baik.

Kata indie, menurut beberapa sumber, berasal dari Bahasa Inggris dari asal kata independent. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kata independent berarti merdeka, sendiri, yang berdiri sendiri, dan bebas. Karena alasan yang tidak diketahui jelas kata ini melahirkan bentuk slangnya yakni indie. Beberapa orang mengemukakan alasannya bahwa kata indie lebih easy listening, lebih gaya, lebih keren (cool) – sebagaimana beberapa kata slang lain yang sering kita jumpai.

Kemudian, kata indie pada frasa buku indie ini bisa kita pahami dengan pendekatan makna kata bahasa di atas. Namun, dengan tetap memperhatikan aspek lain yang melingkupinya. Walaupun sebenarnya frasa tersebut dirasa bermasalah mengingat kata indie merupakan bentuk slang yang dari Inggris. Mungkin karena tidak ditemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia maka kata tersebut dibiarkan begitu saja.

Buku indie, menurut sebagian sumber, adalah buku yang diterbitkan secara mandiri baik oleh seseorang maupun kelompok dalam bentuk komunitas ataupun organisasi. Penerbitan mandiri tersebut didasarkan oleh beberapa alasan. Pertama, buku indie berisi naskah yang dirasa hanya perlu atau penting dibaca oleh sedikit orang karena alasan kesamaan hobi, minat, ideologi, bahkan bahasa. Sebab, ditujukan untuk dan dari kalangan terbatas.

Kedua, buku indie tidak dapat ditampung oleh penerbit mayor karena jika diterbitkan dianggap akan merugikan karena tidak diminati pasar. Biasanya, dalam pengertian ini, buku indie berisi naskah dengan idealisme tingkat “ngerih”. Bisa juga karena berisi kajian yang teramat lokal. Bisa juga sebab alasan lain.

Ketiga, buku indie memang dikehendaki oleh si penulisnya. Penulis memang tidak mau bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor. Biasanya, si penulis merasa bahwa pihak penerbitan akan mengekang tidak memberi kebebasan dalam menentukan judul, desain cover atau alasan lainnya. Atau -mungkin- suaranya yang lantang akan sedikit diredam oleh pihak penerbitan. Si penulis hanya memerlukan kemerdekaan atau kebebasan ekspresinya.

Keempat, bisa jadi bukan karena alasan-alasan di atas. Misalnya alasan ekonomi, akses yang terbatas calon penulis ke penerbit buku non-indie karena kurangnya informasi, bisnis, atau undang-undang pelarangan penyebaran ideologi atau paham tertentu. Yang disebutkan terakhir pernah terjadi di era sebelumnya di Indonesia, Kita mungkin pernah mendengar “pelarangan buku” mulai dari menuliskannya, menerbitkan, memasarkan hingga membaca dan mendiskusikannya.

.

Apa itu Self Publishing?

self publishing
self publishing

source: freepik.com

pustakapedia.com – Akhir-akhir ini dunia penerbitan Indonesia menunjukkan geliat baru yang semakin eksis. Geliat ini tidak dapat kita lihat pada penerbit-penerbit buku mainstream. Meskipun, penerbit-penerbit besar itu juga terus berkembang. Tetapi, pada individu-individu yang telah memilih jalan untuk menerbitkan sendiri karya-karyanya. Inilah sebenarnya akar dari istilah y

ang makin sering kita dengar dengan sebutan self publishing.

Lalu, apakah sebenarnya pengertian self publishing itu?

Pengertian Self Publishing

Ada banyak pengertian yang bertebaran di dunia maya tentang ini. Namun, tidak ada salahnya Kami turut memberikan pengertian tentang apa itu self publishing berdasarkan yang Kami pahami.

Jika dilihat dari akar katanya, self publishing  secara bahasa dapat dipahami dengan “penerbitan mandiri” alias menerbitkan buku sendiri. Artinya, si penulis melakukan semua proses penulisan, editing, desain cover, tata letak buku, permohonan ISBN dan barcode di Perpustakaan Nasional RI oleh dirinya sendiri. Tidak lupa, si penulis juga menerbitkan bukunya dengan penerbit yang dibuatnya sendiri. Termasuk melakukan pemasaran sendiri. Benar-benar penulis yang mandiri bukan?

Dari penjelasan di atas saja Kami rasa pembaca sudah dapat menangkap pengertiannya dengan baik. Secara istilah self publishing berarti proses penerbitan -umumnya buku- yang dilakukan oleh penulis hingga buku karyanya tersebut dipasarkan.

Dari pengertian di atas, tampaknya kita melihat dua sisi dari self publishing ini yaitu sisi kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan dan Kelemahan Self Publishing

Self publishing memiliki kelebihan dibanding dengan saat Kita mengajukan naskah ke penerbit-penerbit pada umumnya. Kelebihan pada self publishing yang terutama adalah tidak adanya penolakan naskah. “Ya iyalah, buku dia sendiri mana mungkin ditolak. Wong bukunya karya dia sendiri, penerbitnya punya dia sendiri. Pasti terbitlah,” ujar seorang kawan suatu saat.

Selain itu, self publishing dapat dengan suka-suka menentukan judul, lay out, desain cover, dan pemasaran sendiri. Penulis benar-benar berkuasa penuh atas karyanya.

Tapi, perlu Kami ingatkan bahwa kelebihan yang ada pada self publishing juga merupakan kelemahan-kelemahannya. Kenapa? Sebab, pertama sekali tidak adanya seleksi naskah. Artinya kualitas naskah yang diterbitkan ‘dipertanyakan’. Bagi seorang penulis berpengalaman kelemahan ini bisa tertutupi. Hal ini juga termasuk pada editing.

Kemudian, hasil lay out dan desain cover. Tidak semua penulis memiliki kemampuan desain cover dan tata letak dengan menggunakan software desain grafis. Karenanya, buku hasil self publishing cenderung buruk dalam tampilan dan tata letak.

Masalah ini, mudah saja diatasi. Penulis bisa menggunakan jasa seorang desainer grafis untuk melakukan kedua hal tersebut. Namun, biayanya tidaklah murah. Belum lagi, biaya lain yang perlu dipertimbangkan seperti cetak dan pemasaran.

Dari sini kita bisa lihat bahwa seorang yang mau terjun ke dunia self publishing harus memiliki berbagai keterampilan dan pengetahuan.

Solusi

Geliat penerbitan yang telah Kami kemukakan di atas sebenarnya tidak melulu soal self publishing dalam pengertian yang terbatas, yakni perihal ‘serba sendiri’. Yang makin marak dengan menjamurnya self publishing ini adalah penerbit buku yang melayani jasa self publishing.

Penerbit buku ini, seperti juga pustakapedia, membantu segala proses yang rumit tetapi dengan hasil yang memadai, yang tidak tertangani si penulis. Penulis juga dapat menggunakan nama penerbit yang membuka jasa tersebut atau dengan nama penerbit si penulis sendiri.